Sunday, August 28, 2011

Sejarah kampong selangkin


A.    SEJARAH BERDIRINYA KAMPUNG SELANGKIN

Sekitar satu kilometer dari Pusat Pemerintahan Kecamatan Galling terdapat sebuah kampong/dusunn dengan jumlah penduduk diperkirakan 500 jiwa. Sebelum membentuk sebuah Desa sendiri dengan dua Dusun lainnya, ia adalah bagian dari Desa Galing. Dusun yang kami maksud adalah Dusun Selangkin. Dusun Selangkin yang terletak di Sebelah Barat Desa Galing dengan merupakan sebuah Dusun yang aman, nyaman, dan damai. Akses menuju Dusun ini tidaklah terlalu sulit, hanya menyebrang dari penyebrangan Stegher Pasar Galing menuju langsung menuju Stegher Penyebrangan Silik yang merupakan Stegher Dusun Selangkin.

Dusun Silik adalah satu diantara tiga Dusun yang membentuk Desa Trigadu. Pembentukannya sekitar tahun 2000-an dengan dua dusun lainnya, yakni dusun Semanjak, serta Dusun Semparung Karti.
Adapun batas – batas dusun ini adalah sebagai berikut:
-         Sebelah Utara berbatasa dengan Dusun Parit Baru  Desa Tempapan Kuala.
-         Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Semanjak Desa Trigadu.
-         Sebelah Timur Berbatasan dengan Dusun Semunut dan Dusun Seburuan Desa Galing, serta berbatasan dengan Sungai Bantanan.
-         Sebelah Barat berbatasan dengan Dusun Semparung Desa Trigadu, serta Dusun Parit Baru Desa Tempapan Kuala.
Sekitar 70 tahun yang lalu, kampong/dusun ini bukanlah sebuah kampong seperti sekarang ini, ia hanyalah sebuah hutan belantara. Masih belum ada orang yang berani tinggal dikampung/dusun ini, dengan alasan banyak hantu/makhluk halus yang mengganggu manusia.
Mengenai sejarah  berdirinya Kampung ini, tidak jauh beda dengan dua kampong yang dekat dengan kampong tersebut, yakni kampong Semanjak dan Kampung Semparung. ketiak Kami berada didusun ini untuk melaksanakan Kegiatan Pengabdian Masyarakat (KPM), kami mencoba mencari tahun tentang sejarah berdirinya kampong ini. Salah satu cara yang kami lakukan adalah mencari sumber/informan yang banyak tahu tentang kampong ini. Adapaun orang yang kami tuju adalah Bapak Daud, yang merupakan salah seorang warga kampong/dusun setempat. Ketika kami melakukan wawancara dengan beliau mengenai bagaimana sejarah berdirinya kampong Selangkin ini, beliau menjelaskanlah proseses berdirinya.
Berikut sejarah berdirinya kampong selangkin menurut keterangan dari Bapak Daud.
Diperkirakan tahun 1940-an kampong ini hanya sebuah hutan belantara yang lebat, masih belum ada orang yang menempati/tinggal disini. Karena masih berbentuk hutan yang lebat, tentunya masih terbuka lebar peluang bagi siapa saja untuk membuka lahan pertanian disini. Sehingga orang akan berdatangan disini untuk menempati wilayah ini. Namun, untuk memasuki wilayah ini, tidak semudah membalikan sebuah telapak tangan, ia harus  menghadapi rintangan dan halangan. Jika rintanga yang dihadapi hanya menebang kayu dengan ukuran yang besar, barangkali banyak yang bisa mendiami/menempati kampong ini dengan mulus dalam waktu yang singkat, akan tetapi rintangan dan halangan yang harus mereka hadapi untuk membuka/tinggal disini adalah makhluk halus/hantu yang suka mengganggu/menakuti manusia. Jika jumlah hantu/makhluk halus tersebut sedikit masih gampang untuk menghadapinya, tetapi hantu tersebut berjumlah sangat banyak sakali, sehingga sulit untuk ditaklukan. Namun yang namanya manusia yang banyak mempunyai akal, dan punya cara yang banyak, mereka tidak mudah putus asa walaupun sebesar apa rintangan yang harus mereka hadapi. Mereka tetap ingin berdatangan ditempat (kampug  Selangkin) ini guna mendapatkan lahan pertanian dan tempat tinggal yang baru.
Adapun orang yang pertama tinggal dikampung ini adalah pak Nek Ujang yang berasal dari Selakau. Dia adalah seorang dukun yang bisa dikatakan kuat/mampu untuk bisa membuka lahan pertnian disana sekaligus tinggal disana. Tujuan  pertama dia datang kesini adalah untuk membuka/mencari lahan pertanian yang baru. Pertama kali ia datang, ia hanya tinggal dipesisir sungai Bantanan. Pak Nek Ujang masih belum bisa untuk menaklukan hantu/makhkuk halus yang menguasai wilayah hutan yang ada disana. Sehingga selama ia tinggal disini, ia hanya bisa menempati bagian pesisir saja itupun hanya sebagian kecil saja. Sekarang tempat Pak Nek Ujang diam yang pertama dulu sudah menjadi areal pertanian padi  bagi warga  Selangkin.
Setelah pak Nek Ujang,  kemudian datang lagi orang berikutnya, yakni Pak Jiban. Pak Jiban ini meneruskan rintisan dari Pak Nek Ujang, yakni membuka lahan baru untuk bertani dan bertempat tinggal. Agak berbeda sedikit dengan Pak Nek Ujang, pak Jiban ini menempati Kampung Selangkin agak jauh disebelah darat. Dia tinggal/membuka lahan lebih kurang 1 kilometer dari sungai bantanan, yang sekarang ini merupakan persimpangan tiga jalan menuju dusun semanjak.
Kemudian rintisan pak Nek Jiban diteruskan lagi oleh Pak Haji Adan. Pak Haji Adan ini  membuka lahan pertanian dan pemukiman dari persimpangan tiga Selangkin ke Darat/Ujung kampong Selangkin yang ketika itu masih hutan lebat. Pak Haji Adan inilah orang yang bisa dikatakan berhasil mengalahkan makhluk halus/hantu yang menguasai hutan Selangkin ketika itu. Setelah Pak Haji Adan lalu diteruakan oleh Pak Ngah Bujang dan diteruskan lagi oleh Pak Ngah Saini yang merupakan pak Ngah Bujang, yang kemudian sampailah rintisan pak Ngah Saini ke Ujung Kampung Selangkin yang paling Ujung ketika itu.
Beberapa tahun kemudian orang semakin hari semakin ramai datang ke Selangkin. Mereka berdatangan kesini karena mereka anggap Kampung ini sudah aman untuk ditempati dan dijadikan sebagai tempat bertani dan tempat tinggal ketika itu.  Dari berbagai kampong datang dan menyatu disini, yang paling banyak datang kekampung ini adalah yang berasal dari Sekura. Hampir mereka mendominasi berdatangan disini. Sehingga pada waktu itu kampong Selangkin mereka sebut “Selangkin Sekura”. Mereka masih menempati daerah bagian sungai Bantanan. Seiring dengan waktu, mereka semakin hari semakin menuju daerah darat kampong Selangkin untuk bertempat tinggal.
Setelah beberapa tahun, kampong ini menjadi semakin ramai, dan hampir kemas untuk layaknya menjadi kampong seperti kampong yang lainnya. Sebelum menjadi bagian Desa Trigadu, kampong ini masih menjadi wilayah Desa Galing, sehingga pada waktu itu, Kampong Selangkin sempat juga diberi nama dengan sebutan Selangkin Bambangan. Nama Bambangan diambil dari sebuah nama Kampung Bambangan yang ada disebrang kampong Selangkin. Yang sekarang ini menjadi dusun Seburuan Desa Galing tepatnya dekat jembatan Seburuan yang berlokasi tidak jauh dari SMA N.1 Galing. Hingga pada waktu itu, dikampung selangkin timbul dua nama, yakni kampong Selangkin Sekura yang ada disebelah darat dan Kampung Selangkin Bambangan yang ada disebelah hulu atau bagian kampong Silik. Merasa tidak etis disatu kampong ada dua nama yang berbeda, lalu masyarakat ketika itu mencoba untuk menyatukn kampong tersebut dengan satu nama saja. Sebab mereka kwatir kalau ada dua nama akan ada blok – blok/ warga yang berkelompok, dan dikwtirkan akan ada kecemburuan social. Sehingga mereka memutuskan untuk menghilangkan nama Selangkin Sekura, dan hanya ada nama Selangkin Bambangan. Nama Selangkin Bambangan mereka pilih karena mereka beralasan bahwa nama tersebut cocok karena Selangkin bagian dari Kampung Bambangan yang ketika itu bagian dari Desa Galing.
Setelah adanya pemekaran Desa, Dusun Selangkin Bambangan ketika itu, memilih memisahkan diri dari bagian Desa Galing dan bergabung dengan dua Dusun lain, yakni dusun Semanjak dan Dusun Semparung. mereka bergabung dan membentuk Satu Desa baru yang disebut dengan Desa Trigadu, yang berarti ”Tiga Gabungan Dusun”. Setelah Dusun selangkin Bambangan memisahkan diri dari Desa Galing, maka nam Selangkin Bambangan juga mereka rubah, menjadi “Dusun Selangkin”  saja.
Demikianlah cerita sejarah berdirinya kampong Selangkin yang kami petik dari beberapa sumber. Dari cerita ini, kami tidak dapat menyebutkan dari mana asal nama Selangkin diambil, sebab dari sekian banyak narasumber yang  kami wawancarai, tidak ada satupun yang mengetahuinya. Mereka hanya tahu orang yang pertama tinggal di Kampung Selangkin saja. Ketika orang yang datang kekampung ini, yakni pada Zaman Pak Nek Ujang, kampong ini sudah bernama selangkin. Mungkin sebelum pak Nek Ujang ada yang sudah datang kesini, yang memberikan nama Kampung ini Selangkin yang tidak diketahui oleh narasumber kami.
Semoga cerita ini bisa mmberikan sedikit informasi kepada para pembaca untuk mengetahui sejarah berdirinya Kampung Sleangkin. Dan apabila terdapat kesalahan cerita ini, atau tidak sesuai dengan yang sebenarnya kami mohon maaf yang sebesar – besarnya.

1 comment: